“Ilham..
egh gak papa kok, aku kekamar dulu ya bye..” Ucapmu lansung berlari kekamarmu
Ilham
hanya menggeleng heran, dia tau ada yang kamu sembunyikan. Lalu Ilham
melanjudkan langkah kekamarnya, ya dia memang menginap dirumahmu, ditugaskan
oleh orang tuamu untuk menjagamu karna orang tuamu sedang di singapore
menjalankan tugas mereka.
Kamu
menghempaskan tubuhmu diatas kasur empukmu yang berwarna hijau muda itu.
“Apa
aku harus mengalah? Berpaling supaya semua ini berakhir dan tak perlu ada yang
tersakiti lagi” Ucapmu sendirian sambil menatap langit langit kamarmu
“Ya
tuhan bantu (namamu)” lirihmu memohon sambil mengusap wajahmu dengan kedua
tanganmu
“Aku
udah gak sanggup, disini udah terlalu sakit” Lirihmu sambil meletakkan tangan
didadamu
“Apa
aku akan membiarkan ini rapuh gitu aja?” Ucapmu sendirian lagi masih dengan
tangan didadamu
“Enggak
mungkin aku bisa nyelesaiin gitu aja, kalau mengakhirinya? Mungkin saja, hanya
sebentar” Ungkapmu “Oke besok semua harus hilang dan aku harus bertahan tanpa
kak Bisma” lanjudmu lalu kamu meraih ponselmu dan mengirim pesan pada Bisma
agar bertemu besok pagi jam 8, kemudian kamu kembali berbaring dan mencoba
memejamkan matamu perlahan, perlahan pula kamu terlelap dalam tidur.
***
Sepasang
kekasih tengah duduk berdua disebuah bangku panjang berwarna putih tak jauh
dari rumah pohon yang ada ditepi sebuah sungai kecil.
“Kak..”
panggilmu pelan “ya” Jawab Bisma
“Kaka
tau apa itu cinta? Cinta itu terdiri dari dua suku kata, dan pengisinyapun Cuma
dua kak..” lirihmu “Bukan tiga..”
Lanjudmu semakin lirih hampir tak terdengar. Bisma hanya diam, mendengarkanmu
“Dan
kaka tau hati itu apa? Hati itu merah padam, lembut, rapuh, dan sakit banget
kalau sentuh” Lanjudmu lagi. “Dan hati itu bukan benda yang bisa dipermainkan kak”
lanjudmu. “Sekali tergores, sulit untuk disembuhkan” lanjudmu lagi. “Dan aku
mau jaga hati aku, supaya gak terlalu banyak goresan disana” Lanjutmu lagi
“(Namamu)..”
lirih Bisma ingin menyentuh pundakmu namun kamu tepis pelan
“Mulai
saat ini kita udahan ya kak, aku udah gak ada rasa apa apa lagi sama kaka,
Bye..” ucapmu berdiri dan melangkah berniat pergi dari tempat itu namun Bisma
menarik tanganmu hingga langkahmu terhenti tanpa berbalik, ya posisimu
membelakangi Bisma “Tes, tes” air matamu menetes butir demi butir.
“Hati
kaka cuma satu, udah diisi sama cinta, dan pengisi cinta harusnya memang cuma
dua tapi kita tigakan.. Kaka sendiri ga ngerti sama perasaan kaka, kaka sayang
kamu, franda, kaka sayang kalian berdua dan rasa itu satu bukan terbagi, kaka
ga bisa tepis salah satunya, karna kalian sama sama berarti” Ucap Bisma, dia
menarik tanganmu perlahan agar kamu berbalik menatapnya. Kamu hanya tertunduk
“Baru
kali ini kaka liat kamu nangis, udah.. cukup, kaka ga bisa liat kamu gini” Ucap
Bisma bergetar sambil menghapus air matamu dengan tangannya.
“Hati
kaka memang terkeping dua sekarang, tapi rasa didalam hati itu tetap utuh dan
keutuhan itu ada dihati kamu dari dulu-selamanya” Ucap Bisma lagi
“Cewek
mana sih kak yang sanggup diduain, apa itu gak sakit..” Tanyamu menahan
tangismu, suaramu bergetar, air matamu semakin jatuh
“Aku
mau kak, dari dulu kan.. tapi aku udah gak sanggup..” Lirihmu menatap Bisma
dengan tatapan matamu yang mulai melemah. Bisma lansung menarikmu dalam
pelukannya.. airmatanya menetes disudut matanya. Bisma tau kamu lemah saat ini
“Tetap
lah bertahan, yakinkan kaka siapa yang terbaik antara kalian, yakinkan kaka
siapa yang terTULUS, siapa yang benar benar mengerti kaka.” Ucap Bisma
“Kamu
mau kan? Kaka Mohon..” lirih Bisma menyembunyikan wajahnya disela sela rambut
dilehermu. Keadaan ini membuat hatimu berbelok 90 derajat, kamu sangat
mencintai Bisma tapi jika begini, tidak mungkin hatimu sanggup berkata tidak.
Kamu sudah terlalu lemah karna cinta Bisma untukmu, hanya kehadiran Bisma yang
menguatkanmu kembali. Kamu mengangguk pelan.. Bisma tersenyum sambil mempererat
pelukannya padamu..
Bersambung.....
@Rita_Nurzari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar